AL-QUR’AN SUMBER UTAMA DALAM KONSELING ISLAM
Disusun guna Memenuhi Tugas Akhir Semester 1
Mata Kuliah
: Bahasa Indonesia
Pengampu : Suciati, M.Pd
Disusun oleh:
Kelas B-PAI
Sania Rosyida (1510110044)
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
KUDUS
JURUSAN TARBIYAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
2015
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Puji syukur penulis panjatkankehadirat Allah
SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik serta hidayah-Nya sehingga penulis
mampu menyelesaikan makalah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya. Tanpa
pertolongan-Nya mungkin penulis tidak dapat menyelesaikan penulisan makalah ini
dengan baik.
Penulis menyadari didalam penulisan makalah
ini berkat bantuan dan tuntunan Allah SWT dan tidak terlepas dari bantuan
berbagai pihak, untuk itu dalam kesempatan kali ini penulis ingin menyampaikan
rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Ibu Suciati, M.Pd selaku dosen pengampu mata
kuliah Bahasa Indonesia yang telah memberikan arahan serta bimbingan kepada
penulis dalam penyusunan makalah ini.
2. Kedua orangtua penulis yang tiada
henti-hentinya memberikan semangat, dukungan, serta motivasinya kepada penulis
dalam penyelesaian makalah ini.
3. Teman-teman dan semua pihak yang tidak dapat
penulis sebutkan satu-persatu.
Melalui pemaparan makalah ini, penulis
berharap pembaca mampu mengambil sisi positif dari berbagai permasalahan yang
ada. Kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT, maka penulis menyadari didalam
penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan dan kesalahan, baik dari segi
penulisan maupun pemaparan. Untuk itu kritik dan saran yang bersifat membangun
sangat diperlukan penulis guna tercapainya kesempurnaan dalam penyusunan dan
penulisan makalah ini.
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bimbingan dan
Konseling sering dimaknai sebagai penyuluhan, yakni suatu usaha memberikan
bantuan, baik bantuan yang berupa benda, nasehat, ataupun petunjuk informasi.
Konseling berbeda dengan bimbingan karena pada dasarnya konseling dianggap
sebagai wujud bimbingan yang lebih luas.
Al-Qur’an
adalah kitab yang mencakup kebajikan dunia dan akhirat. Sehingga didalamnya
terdapat petunjuk, pengajaran hukum, aturan, akhlak dan adab sesuai penegasan
Ash-Shidiqi, Hasbi (1966). Ungkapan ini mengandung pengertian bahwa Al-Qur’an syarat dengan jawaban berbagai
persoalan kehidupan, termasuk persoalan keilmuwan.Sumber rujukan setiap masalah
maupun keilmuwan adalah Al-Qur’an, termasuk Bimbingan dan Konseling yang ajarannya
tidak lepas dari dalam Al-Qur’an.
Pada hakekatnya
individu sendirilah yang perlu hidup sesuai dengan tuntunan Allah dengan cara
aktif belajar memahami dan sekaligus melaksanakan tuntunan islam (Al-Qur’an dan
sunah rosul-Nya) agar mereka selamat. Pada akhirnya diharapkan individu selamat dan memperoleh kebahagiaan yang
sejati di dunia dan akhirat, bukan sebaliknya kesengsaraan dan kemelaratan di
dunia dan akhirat.
Selanjutnya,
penulis akan menyampaikan rumusan masalah yang akan dibahas dalam bab berikutnya
secara rinci dan lebih lengkap guna memberikan pemahaman serta pengetahuan yang
mendalam kepada pembaca.
B. Rumusan Masalah
Selanjutnya
penulis akan membahas beberapa rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apa Pengertian Bimbingan dan Konseling Islami?
2. Bagaimana Bimbingan Konseling dalam Al-Qur’an?
3. Bagaimana Metode Pengembangan dalam Model
Konseling Qur’ani?
4. Bagaimana Solusi Islam atas berbagai Kasus
dengan Model Konseling?
C. Tujuan Masalah
Berdasarkan
rumusan masalah diatas penulis menyimpulkan tujuan masalah sebagai berikut:
1. Agar Mahasiswa mengetahui Pengertian Bimbingan
dan Konseling Islami.
2. Mengenalkan kepada Mahasiswa hakekat Bimbingan
Konseling dalam Al-Qur’an.
3. Menjelaskan metode pengembangan yang digunakan
dalam model konseling Qur’ani.
4. Memeberikan pemahaman kepada mahasiswa bahwa
banyaknya kasus yang ada dapat diatasi oleh islam dengan menggunakan model
konseling.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Bimbingan dan Konseling Islami
1. Hakikat Bimbingan
Istilah bimbingan merupakan terjemahan dari
bahasa inggris kata guidance yang biasa diartikan sebagai penyuluhan. Untuk
memahami makna bimbingan beberapa ahli berpendapat sebagai berkut:
a. Arthur Jones (1977), Bimbingan adalah suatu bantuan yang
diberikan oleh seseorang kepada orang lain dalam membuat pilihan-pilihan dan
penyesuaian-penyesuaian serta dalam membuat pemecahan masalah.
b. Schertzer dan Stone(1981), Bimbingan adalah
suatu proses bantuan yang ditunjukkan kepada individu agar mengenali dirinya sendiri
dan dunianya.[1]
Penulis dalam buku ini berpendapat bahwa
bimbingan merupakan suatu proses pemberian bantuan yang ditujukan kepada
individu/siswa atau sekelompok siswa agar yang bersangkuatan dapat mengenali
dirinya sendiri.[2]
2. Hakikat Konseling
Istilah Konseling merupakan terjemahan dari
kata Counsellingyang sering kali diartikan sebagai penyuluhan. Arti
penyuluhan disini berbeda dengan arti penyuluhan pada bimbingan karena pada
dasarnya bimbingan dan konseling memiliki tujuan yang berbeda. Jika bimbingan
tujuannya hanya sebatas pemahaman seseorang terhadap diri dan dunianya
sendiriyang biasanya orang tersebut tidak bermasalah, sedangkan konseling
tujuannya adalah untuk memecahkan suatu masalah yang dialami seseorang melalui
interview.
Selanjutnya, apa arti Counselling?
Untuk memahami arti istilah ini baiklah kita perhatikan pendapat beberapa ahli
berikut.
a. I. Jumhur dan Moh. Surya (1975), konseling
merupakan salah satu teknik pelayanan dalam bimbingan secara keseluruhan, yaitu
dengan memberikan bantuan secara individual (face to face relationship).
b. Arthur Jones (1977), konseling adalah suatu
proses membantu individu untuk memecahkan masalah-masalahnya dengan cara
interview.
Dari beberapa pendapat para ahli diatas dapat
disimpulkan bahwa konseling adalah suatu bimbingan yang diberikan kepada
individu (siswa) dengan tatap muka (face to face) melalui wawancara.[3]
3. Pengertian Bimbingan dan Konseling Islami
Kata islam dari segi kebahasaan mengandung
arti patuh, tunduk, taat, dan berserah diri kepada Tuhan dalam upaya mencari
keselamatan dan kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Hal
demikian dilakukan atas kesadaran dan kemauan diri sendiri, bukan paksaan atau
berpura-pura, melainkan sebagai panggilan dari fitrah dirinya sebagai
makhluk yang sejak dalam kandungan sudah menyatakan patuh dan tunduk kepada
Tuhan.[4]
Adapun hakikat bimbingan dan konseling islami
adalah upaya membantu individu belajar menegembangkan fitrah dan atau kembalikepada
fitrah, dengan cara memberdayakan (enpowering) iman, akal, dan
kemauan yang dikaruniakan Allah SWT.[5]
Arah yang ditempuh adalah menuju pada pengembangan
fitrah dan atau kembalikepadafitrah. Dari rumusan tersebut bisa
dipahami bahwa dorongan dan atau pendampingan belajar tersebut dimaksudkan agar
secara bertahap individu mampu mengembangkan fitrah dan sekaligus
kembali kepada fitrah yang dikaruniakan Allah kepadanya.[6]
B.
Bimbingan Konseling dalam Al-Qur’an
1.
Bimbingan dalam Al-Qur’an
Nilai bimbingan yang terdapat dalam ajaran
Al-Qur’an dapat digunakan pembimbing untuk membantu si terbimbing dalam
mementukan pilihan perubahan tingkah laku positif.
Lebih lanjut Al-Qur’an mengintrodusir secara
tegas bahwa manusia adalah wakil Tuhan dibumi {QS.Al-Ahzab [33]:72}, diciptakan
dengan seindah-indahnya {QS.At-Tin [95]:4}, memiliki kebebasan berbuat {QS.Ar-Ra’d
[13]:11}, mendapat ilmu pengetahuan sehingga Tuhan menjadikan para malaikat
sujud kepadanya {QS.Al-Baqarah [2]:31-34}. Dalam Al-Qur’an juga dikenal adanya
ruh dan hubungan metafisis yang menjadi dasar tingkah laku manusia.[7]
2.
Konseling dalam Al-Qur’an
Berdasarkan telah heuristik terhadap 6666
ayat-ayat Al-Qur’an ditemukan 290 ayat yang memiliki kandungan nilai konseling.
Semua ayat yang ditemukan secara implisit menunjukkan adanya perubahan tingkah
laku. Jumlah ayat-ayat Al-Qur’an hasil temuan dijabarkan peneliti berdasarkan
model A-R sesuai jumlah perubahan tingkah laku yang merupakan kunci
keberhasilan proses bimbingan konseling. Dari contoh tersebut seorang petugas
bimbingan di lapangan akan dapat memilih satu atau beberapa untuk diterapkan
dalam proses bimbingan konseling untuk melakukan pengubahan tingkah laku
terhadap siterbimbing atau klien.
Penjabaran ke dalam model A-R bertujuan untuk
memudahkan pembahasan dan pemahaman dari hasil temuan. Ayat-ayat Al-Qur’an
tersebut misalnya: Model A [41 ayat QS.Yusuf(12):
8,11-18,59-66,70-83,87-92,97], Model B [9 ayat QS.Yusuf (12): 36-41], dsb. Dari
hasil temuan tersebut dapat diketahui bahwa untuk membantu klien, khususnya
klien yang beragama islam teknik efektif untuk mengubah tingkah laku klien
adalah membuka kesadaran klien. Kesadaran ini dapat diwujudkan dengan
intervensi kognitif, afektif, maupun aksi.[8]
C.
Metode Pengembangan dalam Model Konseling
Qur’ani
1. Studi Pustaka
a. Alasan menjadikan Al-Qur’an sebagai Rujukan
dalam Konseling[9]
Ada banyak alasan pentingnya menjadikan
Al-Qur’an sebagai rujukan dalam konseling. Tetapi penulis hanya dapat
menyampaikan sedikit dari banyak alasan tersebut, yaitu sebagai berikut:
1) Al-Qur’an adalah Kitab Suci yang dijamin
terpelihara keasliannya oleh Allah (15:9), dan bagi siapa yang hendak
memahaminya, Allah memudahkan pemahamannya (Q.S, 54:17)
2) Untuk membimbing manusia dibutuhka “pegangan”
berupa rujukan yang benar dan kukuh, padahal tidak ada rujukan yang
paling benar lebih kukuh selain yang bersumber dari Allah SWT,yaitu Al-Qur’an.
b. Mengkaji Pemahaman Musafir[10]
Salah satu tokoh musafir tersebut adalah Yusuf
Al-Qardhawi (2000: 285) yang memberikan banyak penjelasan mengenai kitab suci
Al-Qur’an. Yusuf Al-Qardhawi juga menyebutkan ada empat macam tafsir, yaitu:
1) Tafsir yang diketahui oleh orang Arab dari
kalamnya
2) Tafsir yang tidak seorangpun dima’afkan atas
ketidaktahuannya
3) Tafsir yang diketahui oleh para ulama’
4) Tafsir yang hanya diketahui oleh Allah SWT
Adapun metode yang digunakan oleh Nashruddin
Baidan (2000: 3) untuk membedakan tafsir yaitu: Metode Ijmali (global),
Metode Tahlili (analitis), Metode Maudhu’I (tematik), dan Metode Muqarin
(perbandingan).
2. Seminar Hasil Penelitian
Guna menyempurnakan “Model konseling
QUR’ANI (hipotetik)” yang dibangun atas dasar temuan dari hasil studi
pustaka menuju “Model Bimbingan dan Konseling Qur’ani (tentatif)”, maka
dipandang perlu mendapatkan masukan dari para ahli dalam bidang yang relevan
dengan tema penelitian. Untuk itu dilakukan seminar dengan melibatkan para ahli
dalam bidang “Konseling, Psikologi dan Agama”.
3. Uji Model
Sesudah model tentatif tersusun melalui kegiatan seminar, maka model
yang telah tersusun itu dicobakan di lapangan. Uji model ini bukan dimaksudkan
untuk menguji benar atau tidaknya isi model tetapi lebih difokuskan pada
mencari strategi yang tepat dalam melaksanakan model, khususnya bagi partisipan
usia mahasiswa.[11]
D.
Solusi Islam atas berbagai Kasus dengan Model
Konseling
1.
Solusi Islam atas berbagai Kasus Keluarga
2.
Solusi Islam atas berbagai Kasus Remaja
3.
Solusi Islam atas berbagai Kasus Kehidupan Beragama
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan
dari pembahasan diatas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Hakikat bimbingan dan konseling islami adalah
upaya membantu individu belajar menegembangkan fitrah dan atau kembalikepada
fitrah, dengan cara memberdayakan (enpowering) iman, akal, dan
kemauan yang dikaruniakan Allah SWT.
2. Nilai bimbingan yang terdapat dalam ajaran
Al-Qur’an dalam {QS.Al-Ahzab [33]:72}, adapun didalam Al-Qur’an ditemukan 290
ayat yang memiliki kandungan nilai konseling.
3. Metode untukmengembangkan bimbingan dan
konseling Qur’ani ada tiga tahap, yaitu: Studi Pustaka, Seminar Hasil
penelitian, dan Uji Model.
4. Islam mampu menyelesaikan berbagai
permasalahan sesorang menggunakan model Konseling dengan bersumber pada
Al-Qur’an dan Hadits.
B. Saran
Dari kesimpulan
diatas, penulis memberikan saran sebagai berikut:
1. Seseorang diharuskan mempelajari tuntunan
Allah dan rosul-Nya agar fitrah yang ada pada orang tersebut dapat berkembang
dengan benar.
2. Seringlah membaca dan memahami kandungan isi
Al-Qur’an.
3. Pelajarilah buku-buku yang membahas tentang
Bimbingan dan Konseling agar kamu bisa membedakan anatara hal yang baik dan
buruk.
4. Jika ada masalah jangan dipendam sendiri,
mintalah saran dari gurumu.
DAFTAR PUSTAKA
Mu’awanah, Elfi. Hidayah, Rifa. 2009. Bimbingan dan Konseling Islami di
Sekolah Dasar. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Nata, Abuddin. 2013. Metodologi Studi Islam. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.
Sutoyo, Anwar. 2013. Bimbingan dan Konseling Islami. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar (Anggota IKAPI).
[1]Elvi Mu’awanah, Rifa Hidayah, 2009,Bimbingan dan Konseling Islami di
Sekolah Dasar, PT Bumi Aksara, Jakarta, hlm.53
[2]Elvi Mu’awanah, Rifa Hidayah, Ibid, hlm.54
[3]Elvi Mu’awanah, Rifa Hidayah, Ibid, hlm.56
[4]Abuddin Nata, 2013, Metodologi Studi Islam, PT Raja Grafindo
Persada, Jakarta, hlm.63
[5]Anwar Sutoyo, 2013, Bimbingan & Konseling Islami, Pustaka
Pelajar (Anggota IKAPI), Yogyakarta, hlm.22
[6]Anwar Sutoyo, Ibid, hlm.23
[7]Elvi Mu’awanah, Rifa Hidayah, 2009,Bimbingan dan Konseling Islami di
Sekolah Dasar, PT Bumi Aksara, Jakarta, hlm.153
[8]Elvi Mu’awanah, Rifa Hidayah, Ibid, hlm.161
[9]Anwar Sutoyo, 2013, Bimbingan & Konseling Islami, Pustaka
Pelajar (Anggota IKAPI), Yogyakarta, hlm.38
[10]Anwar Sutoyo, Ibid, hlm.40
[11]Anwar Sutoyo, Ibid, hlm.44

0 komentar:
Posting Komentar