Selasa, 18 April 2017

Makalah Logika



ASAS-ASAS BERPIKIR (QONUN) DALAM LOGIKA

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mandiri
Mata Kuliah: Logika Semester 2
DosenPengampu: Rochanah, M.Pd.I









Disusunoleh:
Sania Rosyida                         (1510110044)
Kelas PAI-B

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM  NEGERI (STAIN) KUDUS
JURUSAN TARBIYAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
TAHUN 2016




BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Logika adalah ilmu yang mempelajari metode dan hukum-hukum yang digunakan untuk membedakan penalaran yang betul dari penalaran yang salah. Sedangkan berpikir ialah berbicara dengan diri sendiri di dalam batin (Poespoprodjo, 1999: 49), atau aktivitas manusia berpikir adalah membanding, menganalisis serta menghubungkan proposisi yang satu dengan lainnya (Mundiri,1994:7). Dapat dirumuskan bahwa berpikir adalah proses kerja otak dalam menghadapi masalah untuk mendapatkan ilmu yang benar.
Sudah kita sebut sebelumnya , logika mempelajari hukum-hukum, patokan-patokan, dan rumus-rumus berpikir. Karena pada dasarnya hukum-hukum, asas-asas, dan patokan-patokan logika berfungsi untuk membimbing akal menempuh jalan yang paling efisien guna menjaga kemungkinan salah dalam berpikir. Dalm aktivitas berpikir kita tidak boleh melalaikan patokan-patokan logika yang biasa disebut sebagai Asas-asas berpikir. Asas berpikir sendiri merupakan suatu dasar kebenaran universal bagi semua pembuktian. Oleh karena itu kita harus mengetahui dan memahami tentang asas-asas berpikir tersebut.
Asas berpikir dibagi menjadi tiga dari Aristoteles dan ditambah satu dari Leionisdiantaranya yaitu asas identitas, asas kontradiksi, asas penolakan kemungkinan ketiga, dan asas cukup alasan. Selanjutnya akan dibahas mengenai asas-asas berpikir tersebut dalam pembahasan berikut.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa Pengertian dari  Asas Berpikir?
2.      Bagaimana Asas-asas Berpikir dalam Logika?






BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Asas Berpikir
Dalam aktivitas berpikir kita tidak boleh melalaikan patokan pokok yang oleh logika disebut Asas berpikir. Asas sebagaimana kita ketahui adalah pangkal atau asal dari mana sesuatu itu muncul dan dimengerti.[1]
Berpikir (ratiocinium, reasoning = al-istidlal) ialah berbicara dengan diri sendiri di dalam batin (Poespoprodjo, 1999: 49), atau aktivitas manusia berpikir adalah membanding, menganalisis serta menghubungkan proposisi yang satu dengan lainnya (Mundiri,1994:7). Dapat dirumuskan bahwa berpikir adalah proses kerja otak dalam menghadapi masalah untuk mendapatkan ilmu yang benar.[2]
Jadi Pengertian dari Asas Berpikir ialah pengetahuan dimana pengetahuan lain muncul dan dimengerti. Kapasitas asas ini bagi keseluruhan berpikir adalah mutlak, dan salah benarnya suatu pemikiran tergantung terlaksana tidaknya asas-asas ini. Ia adalah dasar dari pada pengetahuan dan ilmu.[3]
Secara alami pemikiran (penalaran) manusia bergerak dari pengetahuan pra-predikatif menuju pengetahuan predikatif. Tetapi gerak alamiah ini bukannya berhenti hanya pada keputusan atau predikasi (kalimat sebutan). Karena saya dapat mencampurkan dua keputusan sedemikian rupa sehingga dari kombinasi tersebut terbitlah suatu pandangan, yang andai kata masing-masing keputusan tadi dipandang terpisah tidak akan menerbitkan pandangan tersebut.
Jelas kiranya, bahwasannya terdapat hukum-hukum yang harus ditaati oleh setiap proses pemikiran atau penalaran. Tetapi berpikir yang baik yakni berpikir logis dialektis, bukan hanya mengindahkan kebenaran bentuk atau hukum-hukum, tetapi juga harus mengindahkan kebenaran materi pemikiran beserta kriterianya. Hukum-hukum tersebut diselidiki dan dirumuskan oleh logika. Sedangkan masalah materi dan kebenaran kriterianya dicari pada masing-masing bidangnya serta pada epistemologi.[4]

B.     Asas-asas Berpikir dalam Logika
Pikiran adalah benda kodrat, maka berlaku juga hukum-hukum atau asas-asas yang mengikat semua benda kodrat, semua ada khusus (semua beings). Asas-asas tadi adalah pangkalan yang tidak boleh atau tidak dapat diabaikan. Apabila orang mengabaikannya, hanya kekacauanlah yang didapat. Asas-asas ini juga disebut asas-asas formal karena merupakan asas-asas yang menjamin terlaksananya proses pemikiran dengan benar, baik itu dari jenis rasionalis stricto sensu maupun jenis rasionaliatas lato sensu.
Asas-asas tersebut merupakan asas-asas dasar karena asas-asas tersebut demikian bersahaja, mudah dan cepat dilihat. Dengan membandingkan suatu benda dengan dirinya sendiri atau dengan membandingkan ada khusus dan bukan ada khusus (being denga non-being), dengan cara mudah, kita dapat menemukan Asas-asas tersebut:
1.      Asas identitas (principium identitas= qanunzatiyah)
Ia adalah dasar dari semua pemikiran dan bahkan asas pemikiran yang lain. Kita tidak mungkin dapat berpikir tanpa asas ini. Prinsip ini mengatakan bahwa sesuatu itu adalah dia sendiri bukan lainnya. Jika kalau sesuatu konsep atau term digunakan di dalam suatu pemikiran haruslah sama artinya selama pembicaraan itu berlangsung, tetap mempunyai atribut-atribut yang telah ditentukan, tidak boleh dirobah-robah. Perobahan atribut pada term tertentu yang kita pakai itu akan mengakibatkan kekacauan dalam pemikiran, dan kesimpulan yang diambilpun akan salah.
Jika kita mengakui bahwa sesuatu itu Z maka ia adalah Z dan bukan A, B atau C. Misalnya saya mengatakan bahwa Ahmad adalah Ahmad bukan Muhammad. Bila kita beri perumusan akan berbunyi: “Bila proposisi itu benar maka benarlah ia”.
2.      Asas kontradiksi (principium contradictoris = qanun tanaqud)
Prinsip ini mengatakan bahwa pengingkaran sesuatu tidak mungkin sama dengan pengakuannya. Artinya menurut asas ini, tidak dapat disamakan antara sesuatu barang yang satu dengan barang yang menjadi lawannya; atau sesuatu tidak dapat positive dan negative pada waktu yang bersamaan.
Jika kita mengakui bahwa sesuatu itu bukan A maka tidak mungkin pada saat itu ia adalah A, sebab realitas ini hanya satu sebagaimana disebut oleh asas identitas. Misalnya saya mengatakan bahwa meja itu panjang dan tidak panjang. Jadi tidak mungkin dua kenyataan kontradiktoris bersama-sama secara simultan.[5] Jika hendak kita rumuskan, akan berbunyi: “Tidak ada proposisi yang sekaligus benar dan salah.”
3.      Asas penolakan kemungkinan ketiga (principium exclusi tertii = qanun imtina’)
Asas ini mengatakan bahwa antara pengakuan dan pengingkaran kebenarannya terletak pada salah satunya. Pengakuan dan pengingkaran merupakan pertentangan mutlak, karena itu disamping tidak mungkin benar keduanya juga tidak mungkin salah keduanya. Mengapa tidak mungkin salah kedua-duanya? Bila pernyataan dalam bentuk positifnya salah berarti ia memungkiri realitasnya, atau dengan kata lain realitas ini bertentangan dengan pernyataannya. Dengan begitu maka pernyataan berbentuk ingkarlah yang benar, karena inilah yang sesuai dengan realitas. Juga sebaliknya, jika pernyataan ingkarnya salah, berarti ia mengingkari realitasnya, maka pernyataan positifnya yang benar, karena sesuai dengan realitasnya.
Pernyataan kontradiktoris kebenarannya terdapat pada salah satunya (tidak memerlukan kemungkinan ketiga). Jadi suatu proposisi selalu dalam keadaan benar atau salah. Misalnya Ali setengah lulus dalam ujian. Ini tidak mungkin terjadi, karena yang ada adalah Ali lulus dalam ujian atau Ali tidak lulus dalam ujian. Atau contoh lain ‘Zaid tidak mati dan tidak hidup’.  Jika kita rumuskan, akan berbunyi “Suatu proposisi selalu dalam keadaan benar atau salah”.[6]
4.      Asas cukup alasan (principium rationis sufficientis)
Menurut asas ini adanya sesuatu itu pastilah mempunyai alasan yang cukup, demikian juga jika ada perubahan pada keadaan sesuatu. Dengan kata lain bahwa dialam ini tak mungkin ada yang terjadi dengan tiba-tiba tanpa alasan yang cukup(A.Chairil Basori, 1979:5).[7] Contoh : Motor akan mati jika kehabisan bensin.
Pikiran manusia diciptakan untuk kebenaran. Pikiran kita diciptakan sedemikian rupa sehingga dengan mudah dan cepat dapat melihat kebenaran asas-asas tersebut terutama asas identitas. Seorang anak kecil pun akan tercengang dan memandang Anda apabila Anda mengucapkan dua pendapat berturut-turut, dan pendapat-pendapat ini berlawanan asas. Anak tersebut belum pernah mendengar asas identitas tetapi pikirannya sudah dikodratkan sanggup menangkap kontradiksi tersebut.[8]






BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Asas sebagaimana kita ketahui adalah pangkal atau asal dari mana sesuatu itu muncul dan dimengerti. Dan dapat dirumuskan bahwa berpikir adalah proses kerja otak dalam menghadapi masalah untuk mendapatkan ilmu yang benar. Jadi, Pengertian dari Asas Berpikir ialah pengetahuan dimana pengetahuan lain muncul dan dimengerti. Kapasitas asas ini bagi keseluruhan berpikir adalah mutlak, dan salah benarnya suatu pemikiran tergantung terlaksana tidaknya asas-asas ini.
Asas pemikiran dalam logika  dapat dibedakan menjadi empat bagian yaitu sebagai berikut:
1.      Asas identitas (principium identitas= qanunzatiyah): Prinsip ini mengatakan bahwa sesuatu itu adalah dia sendiri bukan lainnya.
2.      Asas kontradiksi (principium contradictoris = qanun tanaqud) : Prinsip ini mengatakan bahwa pengingkaran sesuatu tidak mungkin sama dengan pengakuannya.
3.      Asas penolakan kemungkinan ketiga (principium exclusi tertii = qanun imtina’) : Asas ini mengatakan bahwa antara pengakuan dan pengingkaran kebenarannya terletak pada salah satunya.
4.      Asas cukup alasan (principium rationis sufficientis) : Menurut asas ini adanya sesuatu itu pastilah mempunyai alasan yang cukup, demikian juga jika ada perubahan pada keadaan sesuatu.





DAFTAR PUSTAKA

Mundiri. 2001. Logika. Bandung: PT Raja Grafindo Persada.
Poespoprodjo, W.1999.  LOGIKA SCIENTIFIKA. Bandung: PUSTAKA GRAFIKA.
Masdi. 2009.Daros Logika. Kudus: Nora Media Enterprise.


[1]Mundiri, 2001, Logika, Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, hlm.10
[2]Masdi, 2009, Daros Logika, Kudus, Nora Media Enterprise, hlm.17
[3]Mundiri,Loc.Cit.
[4]W. Poespoprodjo,1999,  LOGIKA SCIENTIFIKA, Bandung, PUSTAKA GRAFIKA, hlm.20
[5]Mundiri,Loc.Cit.
[6]Ibid, hlm.11
[7] Masdi, Op.cit, hlm.18
[8]W. Poespoprodjo,Op.cit, hlm.186

0 komentar:

Posting Komentar