ASAS-ASAS BERPIKIR (QONUN) DALAM LOGIKA
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mandiri
Mata
Kuliah: Logika Semester 2
DosenPengampu:
Rochanah, M.Pd.I
Disusunoleh:
Sania Rosyida (1510110044)
Kelas PAI-B
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
NEGERI (STAIN) KUDUS
JURUSAN TARBIYAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
TAHUN 2016
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Logika adalah ilmu yang mempelajari metode dan hukum-hukum yang
digunakan untuk membedakan penalaran yang betul dari penalaran yang salah.
Sedangkan berpikir ialah berbicara dengan diri sendiri di dalam batin
(Poespoprodjo, 1999: 49), atau aktivitas manusia berpikir adalah membanding,
menganalisis serta menghubungkan proposisi yang satu dengan lainnya
(Mundiri,1994:7). Dapat dirumuskan bahwa berpikir adalah proses kerja otak
dalam menghadapi masalah untuk mendapatkan ilmu yang benar.
Sudah kita sebut sebelumnya , logika mempelajari hukum-hukum,
patokan-patokan, dan rumus-rumus berpikir. Karena pada dasarnya hukum-hukum,
asas-asas, dan patokan-patokan logika berfungsi untuk membimbing akal menempuh
jalan yang paling efisien guna menjaga kemungkinan salah dalam berpikir. Dalm
aktivitas berpikir kita tidak boleh melalaikan patokan-patokan logika yang
biasa disebut sebagai Asas-asas berpikir. Asas berpikir sendiri merupakan suatu
dasar kebenaran universal bagi semua pembuktian. Oleh karena itu kita harus
mengetahui dan memahami tentang asas-asas berpikir tersebut.
Asas berpikir dibagi menjadi tiga dari Aristoteles dan
ditambah satu dari Leionisdiantaranya yaitu asas identitas, asas
kontradiksi, asas penolakan kemungkinan ketiga, dan asas cukup alasan. Selanjutnya
akan dibahas mengenai asas-asas berpikir tersebut dalam pembahasan berikut.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa Pengertian
dari Asas Berpikir?
2.
Bagaimana Asas-asas
Berpikir dalam Logika?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Asas
Berpikir
Dalam aktivitas berpikir kita tidak boleh melalaikan patokan pokok
yang oleh logika disebut Asas berpikir. Asas sebagaimana kita ketahui adalah
pangkal atau asal dari mana sesuatu itu muncul dan dimengerti.[1]
Berpikir (ratiocinium, reasoning = al-istidlal)
ialah berbicara dengan diri sendiri di dalam batin (Poespoprodjo, 1999: 49),
atau aktivitas manusia berpikir adalah membanding, menganalisis serta
menghubungkan proposisi yang satu dengan lainnya (Mundiri,1994:7). Dapat
dirumuskan bahwa berpikir adalah proses kerja otak dalam menghadapi masalah
untuk mendapatkan ilmu yang benar.[2]
Jadi Pengertian dari Asas Berpikir ialah pengetahuan dimana
pengetahuan lain muncul dan dimengerti. Kapasitas asas ini bagi keseluruhan
berpikir adalah mutlak, dan salah benarnya suatu pemikiran tergantung
terlaksana tidaknya asas-asas ini. Ia adalah dasar dari pada pengetahuan dan
ilmu.[3]
Secara alami pemikiran (penalaran) manusia bergerak dari
pengetahuan pra-predikatif menuju pengetahuan predikatif. Tetapi gerak alamiah
ini bukannya berhenti hanya pada keputusan atau predikasi (kalimat sebutan).
Karena saya dapat mencampurkan dua keputusan sedemikian rupa sehingga dari
kombinasi tersebut terbitlah suatu pandangan, yang andai kata masing-masing
keputusan tadi dipandang terpisah tidak akan menerbitkan pandangan tersebut.
Jelas kiranya, bahwasannya terdapat hukum-hukum yang harus ditaati
oleh setiap proses pemikiran atau penalaran. Tetapi berpikir yang baik yakni
berpikir logis dialektis, bukan hanya mengindahkan kebenaran bentuk atau
hukum-hukum, tetapi juga harus mengindahkan kebenaran materi pemikiran beserta
kriterianya. Hukum-hukum tersebut diselidiki dan dirumuskan oleh logika.
Sedangkan masalah materi dan kebenaran kriterianya dicari pada masing-masing
bidangnya serta pada epistemologi.[4]
B.
Asas-asas
Berpikir dalam Logika
Pikiran adalah benda kodrat, maka berlaku juga hukum-hukum atau
asas-asas yang mengikat semua benda kodrat, semua ada khusus (semua beings).
Asas-asas tadi adalah pangkalan yang tidak boleh atau tidak dapat diabaikan.
Apabila orang mengabaikannya, hanya kekacauanlah yang didapat. Asas-asas ini
juga disebut asas-asas formal karena merupakan asas-asas yang menjamin
terlaksananya proses pemikiran dengan benar, baik itu dari jenis rasionalis
stricto sensu maupun jenis rasionaliatas lato sensu.
Asas-asas tersebut merupakan asas-asas dasar karena asas-asas
tersebut demikian bersahaja, mudah dan cepat dilihat. Dengan membandingkan
suatu benda dengan dirinya sendiri atau dengan membandingkan ada khusus dan
bukan ada khusus (being denga non-being), dengan cara mudah, kita dapat
menemukan Asas-asas tersebut:
1.
Asas identitas (principium
identitas= qanunzatiyah)
Ia adalah dasar dari semua pemikiran dan bahkan asas pemikiran yang
lain. Kita tidak mungkin dapat berpikir tanpa asas ini. Prinsip ini mengatakan
bahwa sesuatu itu adalah dia sendiri bukan lainnya. Jika kalau sesuatu konsep
atau term digunakan di dalam suatu pemikiran haruslah sama artinya selama
pembicaraan itu berlangsung, tetap mempunyai atribut-atribut yang telah
ditentukan, tidak boleh dirobah-robah. Perobahan atribut pada term tertentu
yang kita pakai itu akan mengakibatkan kekacauan dalam pemikiran, dan
kesimpulan yang diambilpun akan salah.
Jika kita mengakui bahwa sesuatu itu Z maka ia adalah Z dan bukan
A, B atau C. Misalnya saya mengatakan bahwa Ahmad adalah Ahmad bukan Muhammad.
Bila kita beri perumusan akan berbunyi: “Bila proposisi itu benar maka benarlah
ia”.
2.
Asas
kontradiksi (principium contradictoris = qanun tanaqud)
Prinsip ini mengatakan bahwa pengingkaran sesuatu tidak mungkin
sama dengan pengakuannya. Artinya menurut asas ini, tidak dapat disamakan
antara sesuatu barang yang satu dengan barang yang menjadi lawannya; atau
sesuatu tidak dapat positive dan negative pada waktu yang bersamaan.
Jika kita mengakui bahwa sesuatu itu bukan A maka tidak mungkin
pada saat itu ia adalah A, sebab realitas ini hanya satu sebagaimana disebut
oleh asas identitas. Misalnya saya mengatakan bahwa meja itu panjang dan tidak
panjang. Jadi tidak mungkin dua kenyataan kontradiktoris bersama-sama secara
simultan.[5]
Jika hendak kita rumuskan, akan berbunyi: “Tidak ada proposisi yang sekaligus
benar dan salah.”
3.
Asas penolakan
kemungkinan ketiga (principium exclusi tertii = qanun imtina’)
Asas ini mengatakan bahwa antara pengakuan dan pengingkaran
kebenarannya terletak pada salah satunya. Pengakuan dan pengingkaran merupakan
pertentangan mutlak, karena itu disamping tidak mungkin benar keduanya juga
tidak mungkin salah keduanya. Mengapa tidak mungkin salah kedua-duanya? Bila
pernyataan dalam bentuk positifnya salah berarti ia memungkiri realitasnya,
atau dengan kata lain realitas ini bertentangan dengan pernyataannya. Dengan
begitu maka pernyataan berbentuk ingkarlah yang benar, karena inilah yang
sesuai dengan realitas. Juga sebaliknya, jika pernyataan ingkarnya salah,
berarti ia mengingkari realitasnya, maka pernyataan positifnya yang benar,
karena sesuai dengan realitasnya.
Pernyataan kontradiktoris kebenarannya terdapat pada salah satunya
(tidak memerlukan kemungkinan ketiga). Jadi suatu proposisi selalu dalam
keadaan benar atau salah. Misalnya Ali setengah lulus dalam ujian. Ini tidak
mungkin terjadi, karena yang ada adalah Ali lulus dalam ujian atau Ali tidak
lulus dalam ujian. Atau contoh lain ‘Zaid tidak mati dan tidak hidup’. Jika kita rumuskan, akan berbunyi “Suatu
proposisi selalu dalam keadaan benar atau salah”.[6]
4.
Asas cukup
alasan (principium rationis sufficientis)
Menurut asas ini adanya sesuatu itu pastilah mempunyai alasan yang
cukup, demikian juga jika ada perubahan pada keadaan sesuatu. Dengan kata lain
bahwa dialam ini tak mungkin ada yang terjadi dengan tiba-tiba tanpa alasan
yang cukup(A.Chairil Basori, 1979:5).[7]
Contoh : Motor akan mati jika kehabisan bensin.
Pikiran manusia diciptakan untuk kebenaran. Pikiran kita diciptakan
sedemikian rupa sehingga dengan mudah dan cepat dapat melihat kebenaran
asas-asas tersebut terutama asas identitas. Seorang anak kecil pun akan
tercengang dan memandang Anda apabila Anda mengucapkan dua pendapat berturut-turut,
dan pendapat-pendapat ini berlawanan asas. Anak tersebut belum pernah mendengar
asas identitas tetapi pikirannya sudah dikodratkan sanggup menangkap kontradiksi
tersebut.[8]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Asas sebagaimana kita ketahui adalah pangkal atau asal dari mana
sesuatu itu muncul dan dimengerti. Dan dapat dirumuskan bahwa berpikir adalah
proses kerja otak dalam menghadapi masalah untuk mendapatkan ilmu yang benar.
Jadi, Pengertian dari Asas Berpikir ialah pengetahuan dimana pengetahuan lain
muncul dan dimengerti. Kapasitas asas ini bagi keseluruhan berpikir adalah
mutlak, dan salah benarnya suatu pemikiran tergantung terlaksana tidaknya
asas-asas ini.
Asas pemikiran dalam logika
dapat dibedakan menjadi empat bagian yaitu sebagai berikut:
1.
Asas identitas (principium
identitas= qanunzatiyah): Prinsip ini mengatakan bahwa sesuatu itu adalah
dia sendiri bukan lainnya.
2.
Asas
kontradiksi (principium contradictoris = qanun tanaqud) : Prinsip ini
mengatakan bahwa pengingkaran sesuatu tidak mungkin sama dengan pengakuannya.
3.
Asas penolakan
kemungkinan ketiga (principium exclusi tertii = qanun imtina’) : Asas
ini mengatakan bahwa antara pengakuan dan pengingkaran kebenarannya terletak
pada salah satunya.
4.
Asas cukup
alasan (principium rationis sufficientis) : Menurut asas ini adanya
sesuatu itu pastilah mempunyai alasan yang cukup, demikian juga jika ada
perubahan pada keadaan sesuatu.
DAFTAR
PUSTAKA
Mundiri.
2001. Logika. Bandung: PT Raja Grafindo Persada.
Poespoprodjo,
W.1999. LOGIKA SCIENTIFIKA.
Bandung: PUSTAKA GRAFIKA.
Masdi.
2009.Daros Logika. Kudus: Nora Media Enterprise.
[1]Mundiri, 2001, Logika,
Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, hlm.10
[2]Masdi, 2009, Daros
Logika, Kudus, Nora Media Enterprise, hlm.17
[3]Mundiri,Loc.Cit.
[4]W.
Poespoprodjo,1999, LOGIKA SCIENTIFIKA,
Bandung, PUSTAKA GRAFIKA, hlm.20
[5]Mundiri,Loc.Cit.
[7] Masdi, Op.cit,
hlm.18
[8]W. Poespoprodjo,Op.cit, hlm.186

0 komentar:
Posting Komentar